GuidePedia

0

Jakarta (12/6) - Menyusuri jalanan Jakarta, ada yang berbeda dari aktivitas ramadhan kali ini. Jakarta sekilas terlihat dipenuhi “manusia gerobak” di saat bulan ramadhan. Fonema ini terus menjamur ketika bulan ramadhan tiba, sampai nanti puncaknya pada malam takbiran.
DKI Jakarta termasuk peringkat ke 6 dari 25 kota di dunia dengan tuna wisma tertinggi. Banyak orang tinggal di Jakarta, tanpa rumah dan sebagian dari mereka hidup dalam gerobak. Manusia gerobak menjadi salah satu pekerjaan rumah buat pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya setiap bulan Ramadhan.
Daerah di Jakarta Selatan yang banyak dijumpai manusia gerobak yakni di Manggarai, Polim dan Fatmawati. Menurut beberapa sumber jumlah mereka bisa mencapai ribuan. Manusia gerobak yang masuk Jakarta, kebanyakan berasal dari daerah Jabodetabek. Biasanya manusia gerobak seringnya bergerak pada malam hari. Jakarta Selatan menempati posisi kedua tertinggi dengan 11 titik rawan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).
Ketua Bidang Sosial PKS Jaksel, Erniwati mengatakan bahwa melakukan razia kepada manusia gerobak dan menggaruknya ke panti sosial tidaklah akan menyelesaikan masalah. Hal yang sama juga dengan memulangkan mereka ke daerah asal.
Sehingga, menurut Ibu Erniwati, perlu ada solusi yang menyentuh ke persoalan pokoknya. Ia menilai, banyaknya manusia gerobak di DKI ini, lantaran di daerah mereka tak memiliki lapangan kerja yang cukup. Karenanya, Erniwati mengatakan, perlu ada koordinasi dengan pemerintah daerah mereka berasal untuk menyediakan lapangan kerja bagi mereka, tentunya dengan upah yang cukup manusiawi.
Sebenarnya kalau manusia gerobak yang asli itu, keberadaanya membantu dalam hal kebersihan, karena mereka mencari sampah – sampah yang bisa di daur ulang. Di sebuah kota dengan tinggi tingkat konsumsi masyarakatnya, maka potensi bisnis daur-ulang sampah sangatlah besar. Rata-rata pendapatan manusia gerobak pemulung per hari sekitar Rp25-30 ribu. “Tingkat konsumsi warga DKI yang tinggi akan menghasilkan banyak sampah seperti botol plastik, kertas, kardus, hingga logam. Hal ini akan mengundang munculnya fenomena manusia gerobak pemulung,” kata Ketua Bidang Sosial, Erniwati.
Erniwati mengatakan, manusia gerobak yang asli yang berprofesi sebagai pemulung, harusnya tidak dikelompokan dalam tunawisma, sebab mereka mempunyai kemauan memiliki rumah sebagai upaya mendukung pekerjaan. Pekerjaannya adalah dengan mengumpulkan barang-barang bekas. “Mereka adalah saudara kita, mereka berjuang demi mendapatkan penghasilan untuk kebutuhan ekonomi rumah tangganya dengan berbekal keterampilan mengumpulkan barang-barang bekas,” ujar Erniwati.
Untuk membedakan ‘manusia gerobak pemulung’ dengan manusia gerobak yang pengemis yang terindikasi Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), ini bisa dilihat dari isi gerobaknya. Kalau isi gerobaknya berupa barang-barang bekas, mereka masuk dalam kategori pemulung.
Erniwati mengatakan, harus ada Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) sebagai mitra kerja dan pembina bagi para manusia gerobak di Jakarta. Sudin Sosial DKI maupun Kementerian Sosial tidak akan bisa sendirian mengatasi persoalan manusia gerobak, dibutuhkan kerja sama seluruh pihak yang terkait.

Post a Comment

 
Top