GuidePedia

0


Dalam beberapa kesempatan ketika menjelaskan bagaimana mengoptimalkan diri mengisi Ramadhan, seringkali banyak muslimah yang curhat dan sedih, ketika haid datang di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. 

Kesedihan yang secara manusiawi wajar saja, karena kenyataannya wanita yang sedang haid memang dilarang untuk sholat, shaum (puasa) dan thawaf (mengelilingi ka'bah). 

Kesedihan ini pun pernah ditunjukkan oleh ummahatul mukminin, Aisyah ra, sebagaimana di jelaskan dalam  hadits riwayat Bukhari (294) dan Muslim (1211) dari jalur ‘Abdurrahman bin Al Qosim, dari Al Qosim bin Muhammad, dari ‘Aisyah, ia berkata, “Aku pernah keluar, aku tidak ingin melakukan kecuali haji. Namun ketika itu aku mendapati haidh. Lalu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya mendatangiku sedangkan aku dalam keadaan menangis. Belia berkata, “Apa engkau mendapati haidh?” Aku menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Ini sudah jadi ketetapan Allah bagi kaum hawa. Lakukanlah segala sesuatu sebagaimana yang dilakukan orang yang berhaji kecuali thowaf keliling Ka’bah.”

Kesedihan ini tidak perlu berlarut, karena sesungguhnya dalam semua permasalan ini terdapat banyak hikmah bukti keadilan Allah swt. 
Berdasarkan penjelasan medis,  wanita yang sedang haid,  kehilangan volume darah rata-rata mencapai 35-50 ml . Sementara, per 30 ml volume darah yang hilang pada periode itu, wanita kehilangan 30 mg zat besi.  banyaknya darah yang hilang inilah menyebabkan wanita haid sering lemas, lesu, hingga pusing berkunang-kunang.

Pada saat wanita melaksanakan shalat, dalam gerakan sujud dan ruku’ secara alamiah akan meningkatkan peredaran darah ke rahim. Karena kebutuhan sel-sel rahim dan indung telur seperti sel-sel limpa yang menyedot banyak darah. Maka, kalau wanita haid tetap diperintahkan sholat, dia akan makin banyak kehilangan darah, karena darah yang tadi mengalir ke rahim, akan ikut keluar bersama darah haid, dan dengan demikian imunitasnya akan melemah,karena sel darah putih juga ikut keluar. Inilah diantara hikmah larangan sholat saat haid. 

Demikian juga dengan  larangan shaum dan thawaf  bagi wanita haid, agar kesehatan dan kebutuhan zat besi tetap terjaga. 

Banyak hal yang tetap bisa dilakukan wanita haid di sepuluh hari terakhir Ramadhan, antara lain : 
memberi makan orang yang shaum,  bersedekah,  berdzikir, berdoa, beristigfar,  menuntut ilmu di majlis  atau dengan membaca buku,  menolong orang lain , dan masih lagi,  dimana semua amalan tersebut juga  bisa menjadi sarana untuk menggapai lailatul Qadar . 

Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memberikan ifthar kepada orang-orang yang shaum atau berpuasa, maka baginya pahala yang seperti orang shaum atau berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun.” [HR Bukhari Muslim].

Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar. Karena, aku melihat kaum wanitalah yang paling banyak menjadi penghuni Neraka.” (H.R. Muslim)

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki- laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun." (QS.4,124).

Wahai para muslimah,  tetaplah bersiaga di perbatasan Ramadhan,  wahai para lelaki dan para suami, tetaplah memotifasi dan membantu para muslimah di sekeliling kita untuk bersama meraih taqwa. 


Bukit Cimanggu City 
@ Sri Kusnaeni



21 Ramadhan 1438 H.

Post a Comment

 
Top