GuidePedia

0
Catatan hari ke 12 Ramadhan


Siapa saja yang pernah datang ke pantai, akan langsung tahu , bahwa tak mungkin kita bisa menghitung jumlah butiran pasir yang ada di sana. Sama seperti menghitung pasir,  hampir sulit kita memastikan bisa menghitung berapakah jumlah dosa dan maksiat yang telah kita lakukan.

Apakah maksiat pada Allah karena suka menunda sholat, bersangka buruk, atau maksiat lainnya.
Belum lagi maksiat kepada sesama manusia.
Kepada pasangan kita, kepada anak atau orang tua kita,  maksiat kepada teman, karena melalaikan tugas dan  tanggung jawab pekerjaan, kepada tetangga ,karena belum bisa memenuhi hak hak tetangga dengan baik, kepada  tukang sayur karena terlalu pelit terus menerus menawar barang dagangan dan maksiat kepada makhluk Allah yang lain.

Seringkali,  boleh jadi kita tidak berniat menyakiti orang lain, tapi tanpa sengaja ada orang lain yang sakit hati dengan perkataan dan sikap kita.

Maka, siapakah  yang berani berkata bahwa hari ini tidak melakukan dosa dan maksiat?  Belum tentu hitungan dan perkiraan kita tepat.

Satu orang anak yang dipuji oleh orangtuanya  di depan saudaranya, bisa menjadi " alasan " bagi kakak atau adiknya merasa tidak disayangi oleh orang tua, dan bukan tidak mungkin dia bersedih dan tersakiti hatinya. Padahal dalam kasus ini, orang tua pasti tidak ada maksud untuk menyakitinya.

Sadar dengan semua kelemahan dan kelalaian  diri,  menjadikan kita sangat berharap di momentum sepuluh hari kedua di bulan ramadhan ini, kita bisa  mendapat  ampunan/ maghfirahnya. Bukankah hari hari ini sampai hari kedua puluh adalah hari hari dimana Allah  membukakan pintu Maghfirah seluas2nya..

Jika ada satu pintu yang tak berbatas jarak tiang antara keduanya, maka itulah pintu maghfirah. Ujung pintunya membentang dari timur sampai barat.
Allah membentangkan ampunannya disiang hari, untuk menerima taubat orang2  yang berbuat dosa dimalam hari, dan Allah membentangkan pintu ampunannya dimalam hari,  untuk menerima taubat orang2  yang berbuat dosa disiang hari. Dan tidak pernah libur dan tidak pernah tertutup,  kecuali setelah matahari terbit dari arah barat,  atau tatkala nafas seseorang telah sampai tenggorokan, dalam sakaratul mautnya.

Mari kita gapai ampunan Allah, untuk dosa dosa kita yang tak berbilang, ibarat pasir di pantai . Agar diri yang penuh dosa ini bisa kembali kehadapanNya dalam keadaan suci bagaikan bayi baru lahir.


Antara Bogor Jakarta,


@ Sri Kusnaeni
12 Ramadhan 1438 H.

Post a Comment

 
Top