GuidePedia

0


Yogyakarta (12/7)  - Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar acara Halal bi halal dengan tema “Nyawiji lan Migunani” pada Ahad, 9 Juli 2017 bertempat di Balai Budaya Gambiran .

Dalam sambutannya M. Darul Falah, ketua DPW PKS DIY, menjelaskan tentang tema yang diangkat, Nyawiji lan Migunani.

“Harapannya para kader PKS DIY setelah Ramadhan kembali berkonsolidasi dan bersama seluruh elemen masyarakat untuk berkhidmat untuk bangsa dan negara, khususnya di Yogyakarta,” ungkapnya.

Acara ini selain dihadiri kader, simpatisan dan warga masyarakat, PKS DIY juga menghadirkan Wakil Ketua MPR, Hidayat Nurwahid untuk memberikan tausyiah.

Hidayat mengungkapkan sejarah bahwa Yogyakarta pernah menjadi ibukota Indonesia, dari 4 Januari 1946 sampai 18 Desember 1948. Dan saat ibukota ada di Yogyakarta itulah Halal bi halal lahir.

“Adalah KH. Wahab Chasbullah yang mengusulkan kepada Presiden Soekarno istilah Halal bi halal untuk acara yang bisa menyatukan kembali para tokoh bangsa yang saat itu terlihat tidak akur, susah untuk duduk dalam satu forum. KH. Wahab Chasbullah berpendapat mereka yang tidak akur berarti dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan,” terang Hidayat Nur Wahid.

Hidayat juga mengingatkan bahwa dari Halal bi halal ini bisa diambil semangat untuk melakukan perbaikan bangsa dan negara dengan halal atau cara-cara yang baik.

“Seperti dalam menangani terorisme. Jangan sampai pemerintah malah fokus pada hal-hal yang bersifat spekulasi dan menimbulkan saling curiga. Contohnya tentang pernyataan-pernyataan yang tampak menyudutkan Rohis,” jelasnya.

“Padahal,” masih menurut Hidayat, “Rohis telah memberikan kontribusi yang nyata pada perbaikan generasi bangsa di sekolah-sekolah. Tidak ada yang namanya pelaku tawuran, klitih adalah anggota Rohis.”

Sosok kelahiran Klaten yang sering disapa HNW ini menutup ceramahnya dengan mengajak para peserta untuk dengan semangat Halal bi halal tetap menjaga ukhuwah Islamiyah.

“Karena dengan inilah menunjukan bahwa umat Islam itu cinta pada bangsa dan negara. Seperti telah ditunjukan para pahlawan Indonesia yang sebagian besar adalah umat Islam dan ulama,” pesannya.

Acara ini dimeriahkan pula dengan penampilan Garuda Keadilan yang menyanyikan tembang-tembang nasyid dan musikalisasi puisi. Panitia juga menyediakan 1.000 porsi kuliner nusantara yang terdiri dari soto, bakso, siomay, sego macan, nasi kuning, dawet dan bubur kacang ijo.

Post a Comment

 
Top