GuidePedia

0

Jakarta (8/9) - Kekerasan yang terjadi atas Muslim Rohingya seolah memperingatkan dunia bahwa jika masyarakat internasional tidak mengambil sikap tegas, maka akan terjadi babak baru pembersihan etnis dalam skala pembantaian Srebrenica.
Seperti dilansir di laman aljazeera.com pembantaian Srebrenica merupakan genosida oleh militer terhadap lebih dari 8.000 orang pria dan anak laki-laki muslim pada tahun 1995 di daerah Srebrenica, Bosnia. Peristiwa ini dapat terjadi kembali mengingat kekerasan di Rohingya telah menewaskan lebih dari 1.000 orang minoritas muslim, termasuk perempuan dan anak-anak.
Pasukan keamanan Myanmar, sebagaimana diberitakan Al-Jazeera, mengakui telah membunuh setidaknya 370 "pejuang" Rohingya sejak putaran terakhir kekerasan di negara bagian Rakhine dimulai pada 25 Agustus. Berdasarkan data PBB, lebih dari 164.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.
Pada Selasa (5/9) Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres memperingatkan resiko pembersihan etnis dan meminta pemimpin sipil Myanmar, Aung San Suu Kyi, serta pasukan keamanan negara tersebut untuk mengakhiri kekerasan Rohingya.
Sementara itu, Aung San Suu Kyi berbicara untuk pertama kalinya mengenai masalah ini pada hari Rabu (6/9). Suu Kyi mengatakan bahwa pemerintahannya melakukan yang terbaik untuk melindungi semua orang di Rakhine dan menyalahkan "teroris" atas perselisihan di negara bagian tersebut. Namun, sikap diamnya selama ini telah menarik kritik tajam dari kelompok hak asasi manusia, aktivis, dan beberapa politisi.
Di Indonesia sendiri, krisis Rohingya mendapat perhatian penting berbagai kalangan, termasuk Partai Keadilan Sejahtera (PKS). PKS pun membentuk Crisis Center for Rohingya (CC4R) sebagai langkah nyata kepedulian terhadap tragedi kemanusiaan di Myanmar. Crisis Center ini bertujuan membantu rakyat Indonesia menerima berita relevan serta mencegah informasi palsu tentang Rohingya.

Post a Comment

 
Top